Minggu, 27 Oktober 2019

PENTINGNYA FIGUR ORANG TUA

Orang tua menjadi faktor terbesar yang menentukan sikap dan kondisi psikologis anak. Semakin anak kehilangan figur orang tua, semakin besar kemungkinan anak kehilangan arah hidupnya. Biasanya, hilangnya figur orang tua disebabkan oleh dua poin berikut:
·     Sosok orang tua yang keras, yang menyisakan banyak luka. Keras di sini berarti sering membentak dengan kalimat yang menyakiti, menyelidiki, atau menghakimi. Misalnya “Ayo mengaku saja, kamu pasti nakal di sekolah, makanya dihukum?” atau “Kamu dari mana? Dasar anak bandel, sudah dibilang jangan pulang malam!”
·         Orang tua yang tidak pernah atau jarang hadir dalam keseharian anak. Misalnya: orang tua sibuk bekerja sehingga selalu berangkat dini hari dan pulang larut malam, ayah yang pergi melaut sehingga hanya dapat pulang dua kali dalam setahun, atau profesi-profesi lainnya yang membuat hubungan personal orang tua dan anak menjadi jauh. Contoh lainnya, orang tua yang memilih untuk bersikap dingin terhadap anaknya. Hal ini membuat kehadiran orang tua tidak dirasakan sepenuhnya oleh anak. Padahal anak membutuhkan hubungan yang hangat disertai bahasa cinta, baik secara verbal maupun sentuhan fisik (seperti pelukan).

Berikut beberapa kasus akibat kurangnya figur orang tua terhadap kondisi psikologis anak:
·        Seorang anak perempuan kurang menerima figur ayah karena baginya sosok ayah selalu melukai. Akibatnya, dia sulit menjalin hubungan dengan lawan jenis.
·        Seorang perempuan lebih mudah jatuh cinta kepada pria dewasa yang memiliki sifat kebapakan. Setelah ditelusuri, ternyata ayah perempuan ini sangat sibuk bekerja sehingga sulit meluangkan waktu untuk anaknya. Dapat diartikan, perempuan ini merasa haus akan rasa sayang dari seorang ayah dan mencari figur ayah yang hilang dari masa kecilnya. Yang mengkhawatirkan adalah apabila figur ayah tersebut ditemukan pada diri seorang lelaki yang telah beristri.
·       Beberapa kasus “mudah jatuh cinta” dialami oleh perempuan dan laki-laki yang kekurangan figur orang tua pada masa kecilnya. Penyebabnya adalah sang anak berusaha mengisi ruang jiwanya yang kosong. Padahal, seharusnya ruang jiwa anak diisi oleh kasih sayang kedua orang tuanya.
·        Seorang anak laki-laki kekurangan figur ayah sehingga tumbuh menjadi pria yang kehilangan jati dirinya sebagai pria sejati. Hal ini karena dia kehilangan masa-masa belajar menjadi seorang pria sejati dari ayahnya.
·       Hal sama juga dapat terjadi apabila anak memersepsikan ayahnya “takut” kepada ibunya. Anak dapat tumbuh menjadi suami yang juga takut kepada istrinya.

Sumber :
Buku Anakku Hartaku yang ditulis oleh Dedy Susanto