Orang tua menjadi faktor terbesar yang menentukan sikap dan kondisi
psikologis anak. Semakin anak kehilangan figur orang tua, semakin besar
kemungkinan anak kehilangan arah hidupnya. Biasanya, hilangnya figur orang tua
disebabkan oleh dua poin berikut:
· Sosok
orang tua yang keras, yang menyisakan banyak luka. Keras di sini berarti sering
membentak dengan kalimat yang menyakiti, menyelidiki, atau menghakimi. Misalnya
“Ayo mengaku saja, kamu pasti nakal di sekolah, makanya dihukum?” atau “Kamu
dari mana? Dasar anak bandel, sudah dibilang jangan pulang malam!”
·
Orang
tua yang tidak pernah atau jarang hadir dalam keseharian anak. Misalnya: orang
tua sibuk bekerja sehingga selalu berangkat dini hari dan pulang larut malam,
ayah yang pergi melaut sehingga hanya dapat pulang dua kali dalam setahun, atau
profesi-profesi lainnya yang membuat hubungan personal orang tua dan anak
menjadi jauh. Contoh lainnya, orang tua yang memilih untuk bersikap dingin
terhadap anaknya. Hal ini membuat kehadiran orang tua tidak dirasakan
sepenuhnya oleh anak. Padahal anak membutuhkan hubungan yang hangat disertai
bahasa cinta, baik secara verbal maupun sentuhan fisik (seperti pelukan).
Berikut beberapa kasus akibat kurangnya figur orang tua terhadap
kondisi psikologis anak:
· Seorang
anak perempuan kurang menerima figur ayah karena baginya sosok ayah selalu
melukai. Akibatnya, dia sulit menjalin hubungan dengan lawan jenis.
· Seorang
perempuan lebih mudah jatuh cinta kepada pria dewasa yang memiliki sifat
kebapakan. Setelah ditelusuri, ternyata ayah perempuan ini sangat sibuk bekerja
sehingga sulit meluangkan waktu untuk anaknya. Dapat diartikan, perempuan ini
merasa haus akan rasa sayang dari seorang ayah dan mencari figur ayah yang
hilang dari masa kecilnya. Yang mengkhawatirkan adalah apabila figur ayah
tersebut ditemukan pada diri seorang lelaki yang telah beristri.
· Beberapa
kasus “mudah jatuh cinta” dialami oleh perempuan dan laki-laki yang kekurangan
figur orang tua pada masa kecilnya. Penyebabnya adalah sang anak berusaha
mengisi ruang jiwanya yang kosong. Padahal, seharusnya ruang jiwa anak diisi
oleh kasih sayang kedua orang tuanya.
· Seorang
anak laki-laki kekurangan figur ayah sehingga tumbuh menjadi pria yang
kehilangan jati dirinya sebagai pria sejati. Hal ini karena dia kehilangan
masa-masa belajar menjadi seorang pria sejati dari ayahnya.
· Hal sama
juga dapat terjadi apabila anak memersepsikan ayahnya “takut” kepada ibunya. Anak
dapat tumbuh menjadi suami yang juga takut kepada istrinya.
Sumber :
Buku Anakku Hartaku yang ditulis oleh Dedy Susanto